Wednesday, 12 June 2013

GAYA DISKUSI OLEH : Rijal Pakne Avisa

GAYA DISKUSI
OLEH : Rijal Pakne Avisa

Melalui akun lama yang diretas kemudian dimatikan, saya sering "debat" dengan Wahhabi, Liberal, pun juga HTI. Dengan Syiah juga beberapa kali.

Hingga akhirnya saya merasa capek, karena memang ikhtilaf al-juhala' (hahaha), dan saat ini melalui akun baru ini saya memilih gaya baru: JURUS KENTHIR MENERTAWAKAN WAHHABI, LIBERAL, & HIZBUT TAHRIR! Maksudnya? Menertawakan ulah mereka dan cara mereka berdiskusi bisa membuat otak kita fresh.

Tatkala berdebat, mereka memakai trik hampir sama: Wahhabi memulainya dengan "bidngah", Liberal dengan "Tuhan", dan HTI memulai jurus "Pancasila".

Kemudian, setelah memulai kembangan, mereka mulai pasang kuda-kuda dengan identifikasi diri bak jagoan: Wahhabi sebagai "Penegak Sunnah", Liberal dengan "Pembunuh (aturan) Tuhan", dan HTI dengan gaya "Pejuang Syariah dan Khilafah". Lha saya sebagai apa? Bakul Buku & penghobi momong anak saja!

Tibalah mereka memainkan jurusnya:

1. Mereka melontarkan statemen provokatif terlebih dulu. Kemudian menunggu umpan balik. Setelah itu berusaha mengunci lawan dengan kalimat abstrak dan pertanyaan retoris. Tujuannya agar kita menghabiskan tenaga meladeni pernyataan abstraknya dan pertanyaan retorisnya, sehingga perhatian kita mulai tersedot ke keduanya, tanpa sempat melontarkan serangan. Mereka terus memojokkan dan menyerang dengan dua jurus di atas. Jika terus menerus meladeni dua jurus ini, kita tidak akan fokus pada tema diskusi (debat?), dan malah menjadi titik balik "kekalahan" kita.

2. Menyematkan gelar sarkastik dan tuduhan penghinaan kepada kita. Ini taktik pengacauan emosi agar pikiran kita tak lagi jernih. Taktik kotor ini sekaligus menjadi sarana memporakporandakan fokus perhatian kita pada tema bahasan. Kuncinya: ngakak saja!

3. Memelintir ucapan atau memenggal statemen seorang tokoh untuk mendukung argumentasinya. Ini untuk mengacaukan argumentasi dan narasi logis yang telah kita susun. Parahnya, beberapa kali juga mencomot ayat maupun hadis dengan metode "kliping" alias cari kata kunci yang mau disampaikan, kemudian cari ayat dengan searching, lalu kopipaste di bawah pendapatnya. Pendapat mufassir dan konteks asbabun nuzul tak menjadi sandaran, sehingga ayat & hadis hanya dimaknai secara tekstual dengan menggunakan logika sendiri. Naudzubillah. Kunci menghadapinya: kita harus banyak baca referensi, sehingga tatkala mereka memenggal atau memelintir pendapat seorang tokoh, kita bisa menyajikan kutipannya secara utuh.

4. Mengandalkan pendapat ulama/tokoh yang sepaham dan seideologi. Nama ulama/ tokoh atau referensinya ya itu-itu saja. Indoktrinasi secara simultan, sikap eksklusif dan fanatisme telah membuat pemahamannya mandeg. Hal ini juga didukung dengan kenyataan bahwa jarang sekali mereka mengutip pendapat lintas generasi ulama/tokoh, atau pendapat di luar lingkar kelompoknya. Kuncinya: atasi dengan mengutip pendapat yang variatif dan otoritatif dari banyak tokoh tentang tema bahasan, atau pendapat lain yang mematahkan argumentasi yang telah mereka susun.
---
Karena saya pensiun menjadi tukang debat, meski sesekali meladeni, dan banyak para pakar yang lebih alim dan mumpuni dalam menghadapi mereka, akhirnya saat diprovokasi, saya memilih pakai jurus Wiro Sableng di bawah ini:

Cengengesan sambil bergaya koboi Suroboyo berkopyah miring, sambil bilang dengan enteng: SAK NYOCOTMU!

ĦăªĦăĦăĦăª
---
Salam,
Syekh Abu Gosoq Assalafy Alkenthiry Aljawy, Lc., MA., MP3, MSG, MLM., M150., MBUOH
(Mursyid Thariqah Insomniyyah)

No comments:

Post a Comment