GAYA DISKUSI OLEH : Rijal Pakne Avisa
GAYA DISKUSI
OLEH : Rijal Pakne Avisa
Melalui akun lama yang diretas kemudian dimatikan, saya sering "debat"
dengan Wahhabi, Liberal, pun juga HTI. Dengan Syiah juga beberapa kali.
Hingga akhirnya saya merasa capek, karena memang ikhtilaf al-juhala'
(hahaha), dan saat ini melalui akun baru ini saya memilih gaya baru:
JURUS KENTHIR MENERTAWAKAN WAHHABI, LIBERAL, & HIZBUT TAHRIR!
Maksudnya? Menertawakan ulah mereka dan cara mereka berdiskusi bisa
membuat otak kita fresh.
Tatkala berdebat, mereka memakai trik
hampir sama: Wahhabi memulainya dengan "bidngah", Liberal dengan
"Tuhan", dan HTI memulai jurus "Pancasila".
Kemudian, setelah
memulai kembangan, mereka mulai pasang kuda-kuda dengan identifikasi
diri bak jagoan: Wahhabi sebagai "Penegak Sunnah", Liberal dengan
"Pembunuh (aturan) Tuhan", dan HTI dengan gaya "Pejuang Syariah dan
Khilafah". Lha saya sebagai apa? Bakul Buku & penghobi momong anak
saja!
Tibalah mereka memainkan jurusnya:
1. Mereka
melontarkan statemen provokatif terlebih dulu. Kemudian menunggu umpan
balik. Setelah itu berusaha mengunci lawan dengan kalimat abstrak dan
pertanyaan retoris. Tujuannya agar kita menghabiskan tenaga meladeni
pernyataan abstraknya dan pertanyaan retorisnya, sehingga perhatian kita
mulai tersedot ke keduanya, tanpa sempat melontarkan serangan. Mereka
terus memojokkan dan menyerang dengan dua jurus di atas. Jika terus
menerus meladeni dua jurus ini, kita tidak akan fokus pada tema diskusi
(debat?), dan malah menjadi titik balik "kekalahan" kita.
2.
Menyematkan gelar sarkastik dan tuduhan penghinaan kepada kita. Ini
taktik pengacauan emosi agar pikiran kita tak lagi jernih. Taktik kotor
ini sekaligus menjadi sarana memporakporandakan fokus perhatian kita
pada tema bahasan. Kuncinya: ngakak saja!
3. Memelintir ucapan
atau memenggal statemen seorang tokoh untuk mendukung argumentasinya.
Ini untuk mengacaukan argumentasi dan narasi logis yang telah kita
susun. Parahnya, beberapa kali juga mencomot ayat maupun hadis dengan
metode "kliping" alias cari kata kunci yang mau disampaikan, kemudian
cari ayat dengan searching, lalu kopipaste di bawah pendapatnya.
Pendapat mufassir dan konteks asbabun nuzul tak menjadi sandaran,
sehingga ayat & hadis hanya dimaknai secara tekstual dengan
menggunakan logika sendiri. Naudzubillah. Kunci menghadapinya: kita
harus banyak baca referensi, sehingga tatkala mereka memenggal atau
memelintir pendapat seorang tokoh, kita bisa menyajikan kutipannya
secara utuh.
4. Mengandalkan pendapat ulama/tokoh yang sepaham
dan seideologi. Nama ulama/ tokoh atau referensinya ya itu-itu saja.
Indoktrinasi secara simultan, sikap eksklusif dan fanatisme telah
membuat pemahamannya mandeg. Hal ini juga didukung dengan kenyataan
bahwa jarang sekali mereka mengutip pendapat lintas generasi
ulama/tokoh, atau pendapat di luar lingkar kelompoknya. Kuncinya: atasi
dengan mengutip pendapat yang variatif dan otoritatif dari banyak tokoh
tentang tema bahasan, atau pendapat lain yang mematahkan argumentasi
yang telah mereka susun.
---
Karena saya pensiun menjadi tukang
debat, meski sesekali meladeni, dan banyak para pakar yang lebih alim
dan mumpuni dalam menghadapi mereka, akhirnya saat diprovokasi, saya
memilih pakai jurus Wiro Sableng di bawah ini:
Cengengesan sambil bergaya koboi Suroboyo berkopyah miring, sambil bilang dengan enteng: SAK NYOCOTMU!
ĦăªĦăĦăĦăª
---
Salam,
Syekh Abu Gosoq Assalafy Alkenthiry Aljawy, Lc., MA., MP3, MSG, MLM., M150., MBUOH
(Mursyid Thariqah Insomniyyah)
No comments:
Post a Comment